SMANDUKOM.COM — Penguatan literasi dan numerasi di sekolah tidak cukup dilakukan melalui pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Kemampuan membaca informasi, memahami data, berpikir kritis, dan memecahkan masalah perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran seluruh mata pelajaran.
Hal itu mengemuka dalam Bimbingan Teknis Penguatan Literasi dan Numerasi Gugus X Jenjang SMA, SMK, dan SLB Tahun 2026 yang berlangsung di SMAN 2 Komodo. Kegiatan diikuti guru dan tenaga kependidikan dari satuan pendidikan dalam Gugus X. Jumat, (25/09/2026)
Literasi dan Numerasi Tanggung Jawab Bersama
Kepala Cabang Dinas Pendidikan NTT Wilayah VI, Adrianus Ngongo, mengatakan literasi dan numerasi bukan hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia dan Matematika. Keduanya harus menjadi bagian dari budaya belajar di seluruh satuan pendidikan.
Menurut Adrianus, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Peserta didik juga perlu mampu memahami informasi, memilah informasi yang benar, berpikir kritis, serta menyampaikan gagasan secara tepat.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Peserta didik tidak cukup hanya menerima informasi, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, memahami, dan mengolah informasi sebelum menggunakannya.
Begitu pula dengan numerasi. Kemampuan numerasi tidak sebatas menghitung, tetapi mencakup kemampuan membaca angka, data, tabel, dan grafik serta menggunakannya untuk memahami persoalan dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Data Harus Menjadi Dasar Perubahan Sekolah
Adrianus juga menekankan pentingnya penggunaan data dalam merancang program peningkatan mutu pendidikan. Rapor Pendidikan, hasil asesmen, pengamatan guru, dan berbagai data sekolah dapat menjadi dasar untuk mengetahui persoalan yang dihadapi peserta didik.
Program sekolah, kata dia, perlu berangkat dari masalah yang nyata, bukan sekadar dari rutinitas kegiatan.
Karena itu, setiap program idealnya memiliki tujuan, indikator keberhasilan, pelaksanaan, pengukuran, refleksi, dan tindak lanjut. Anggaran pendidikan pun tidak semata-mata dilihat dari sisi penyerapan, tetapi sebagai investasi untuk menghasilkan perubahan pada peserta didik.
Pendekatan tersebut mendorong sekolah untuk melihat keberhasilan bukan hanya dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari dampaknya terhadap kemampuan siswa dalam membaca, memahami informasi, bernalar, menggunakan data, dan memecahkan masalah.
Dari Bimtek Menuju Budaya Belajar
Kepala SMAN 2 Komodo, Kornelis Joni, menyampaikan terima kasih karena sekolahnya dipercaya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan. Ia memperkenalkan SMAN 2 Komodo sebagai sekolah yang terus berkembang dengan semangat menjadikan sekolah sebagai “Rumah Peradaban, Rahim Kehidupan.”
Menurut Kornelis, sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tetapi ruang untuk membangun karakter, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan.
Karena itu, sekolah terus mengembangkan berbagai inovasi, termasuk program vokasi dan kegiatan yang memberikan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan nyata. Peserta didik juga terus didorong untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan keterampilan sebagai bekal masa depan.
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan materi Penguatan Literasi dan Numerasi yang disampaikan oleh Kusnadin, S.Pd. Materi berlangsung dalam tiga sesi, yakni penguatan konsep dasar literasi dan numerasi, strategi penerapan dan integrasi dalam pembelajaran, serta penajaman implementasi dan penyusunan tindak lanjut di satuan pendidikan.
Penguatan budaya membaca dapat dilakukan melalui langkah sederhana seperti penyediaan bahan bacaan yang beragam, pojok baca, waktu membaca, jurnal membaca, dan kegiatan menulis refleksi. Sementara numerasi dapat dihadirkan melalui pembacaan grafik dan data, perhitungan sederhana, serta persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kasi Kepengawasan Cabang Dinas Pendidikan, Muhamad Nurdid, S.Hut.
Melalui Bimtek Penguatan Literasi dan Numerasi Gugus X, sekolah diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep. Literasi dan numerasi perlu bergerak dari ruang pelatihan menuju ruang kelas, dari ruang kelas menuju budaya sekolah, dan pada akhirnya menjadi bagian dari cara peserta didik memahami kehidupan.





