SMANDUKOM.COM — Digitalisasi pembelajaran dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menjembatani keterbatasan jarak, akses, dan kualitas pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemanfaatan teknologi di sekolah tidak cukup hanya ditandai dengan tersedianya perangkat digital, tetapi harus memberi dampak nyata terhadap proses belajar dan perkembangan kompetensi peserta didik.
Hal tersebut disampaikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi NTT Wilayah VI, Adrianus Ngongo, S.Pd., M.Pd., dalam kegiatan Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran bagi Guru dan Tenaga Kependidikan Gugus X Jenjang SMA, SMK, dan SLB Tahun 2026 yang berlangsung di SMAS St. Ignatius Loyola Labuan Bajo. Sabtu, (26/09/2026)
Menjembatani Jarak dan Akses Pendidikan
Adrianus mengatakan, kondisi geografis NTT membuat digitalisasi pembelajaran memiliki peran penting. Jarak antardaerah, kondisi topografi, serta belum meratanya infrastruktur pendidikan menjadi tantangan yang harus dijawab dengan pemanfaatan teknologi secara tepat.
“Digitalisasi pembelajaran merupakan hal yang sangat mendesak bagi NTT untuk menjembatani keterbatasan jarak, akses, dan kualitas. Hal ini sangat krusial mengingat kondisi topografi NTT yang menantang, pembangunan yang belum merata, serta banyaknya satuan pendidikan yang berada di wilayah 3T,” ujar Adrianus.
Menurut dia, teknologi memungkinkan guru dan siswa memperoleh sumber belajar yang lebih luas. Materi pembelajaran tidak lagi hanya bergantung pada buku atau sumber yang tersedia di lingkungan sekolah.
Namun, Adrianus mengingatkan bahwa digitalisasi bukan sekadar persoalan jumlah perangkat yang dimiliki sekolah. Ukuran keberhasilannya adalah sejauh mana teknologi tersebut mampu memperbaiki proses pembelajaran.
“Yang paling penting bukan berapa banyak teknologi yang kita punya, tetapi masalah belajar apa yang bisa kita selesaikan dengan teknologi yang kita punya,” katanya.
IFP dan AI Harus Menghidupkan Pembelajaran
Salah satu perangkat yang mulai digunakan dalam digitalisasi pembelajaran adalah Interactive Flat Panel (IFP). Menurut Adrianus, keberadaan IFP seharusnya tidak hanya menggantikan papan tulis atau layar presentasi.
Guru perlu menggunakannya untuk mendorong siswa lebih aktif berpikir, bertanya, berdiskusi, mencoba, memecahkan masalah, hingga menghasilkan karya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi mengenai pemanfaatan IFP dan pembuatan video pembelajaran berbasis kecerdasan buatan atau AI. Materi disampaikan dalam lima sesi oleh Merry Sagay, S.Pd., Gr.
Merry menjelaskan bahwa pemanfaatan pembelajaran berbasis digital perlu diarahkan untuk membangun keterampilan yang dibutuhkan siswa pada era Revolusi Industri 4.0.
“Melalui akses materi pembelajaran berbasis digital, kita menyiapkan siswa agar memiliki keterampilan era Revolusi Industri 4.0, khususnya kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta literasi digital yang kuat,” urai Merry.
BOS Kinerja Harus Berujung pada Dampak
Adrianus juga mengingatkan pentingnya memastikan setiap program dan kegiatan pendidikan menghasilkan perubahan di ruang kelas. Hal ini termasuk dalam pemanfaatan BOS Kinerja.
Menurut dia, kegiatan pelatihan tidak boleh berhenti pada aktivitas administratif atau sekadar memenuhi agenda. Pengetahuan yang diperoleh guru harus diterapkan dalam proses pembelajaran dan memberi pengaruh terhadap peserta didik.
“Kegiatan bukan tujuan akhir. Kegiatan harus menghasilkan dampak,” tegasnya.
Karena itu, Adrianus mendorong guru untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Guru perlu menjadi pengguna yang kreatif, kritis, dan mampu menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan belajar siswa.
Ia memperkenalkan pendekatan 5M, yakni memetakan masalah pembelajaran, memilih teknologi yang sesuai, memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, membagikan praktik baik, dan mengukur dampaknya terhadap hasil belajar siswa.
Guru Tetap Menjadi Penentu
Meski teknologi berkembang pesat, Adrianus menegaskan bahwa digitalisasi tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru.
“Digitalisasi pembelajaran tidak akan pernah menggantikan peran seorang guru. Peran guru tetap mendasar dan tidak tergantikan, terutama dalam membentuk karakter, memberikan teladan, serta mengasah empati siswa. Teknologi hanyalah alat bantu agar guru dapat mengajar secara lebih efektif, efisien, dan relevan,” tambahnya.
Bagi Adrianus, guru tetap menjadi aktor penting dalam menentukan bagaimana teknologi digunakan. Perangkat digital hanya akan bermakna jika digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata peserta didik.
Sementara itu, sebagai tuan rumah kegiatan, Kepala SMAS St. Ignatius Loyola Labuan Bajo, P. Agustinus Susanto Naba, SVD, SS, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan.
Ia menyambut jajaran Cabang Dinas Pendidikan Provinsi NTT Wilayah VI, narasumber, dan seluruh peserta. Agustinus juga menegaskan komitmen SMAS St. Ignatius Loyola Labuan Bajo untuk terus beradaptasi dan memanfaatkan teknologi digital dalam proses belajar-mengajar.
Kegiatan Bimtek tersebut diharapkan tidak berhenti pada penguasaan perangkat dan aplikasi. Lebih jauh, digitalisasi diarahkan untuk membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna serta mempersiapkan siswa menghadapi tuntutan masa depan.
Pada akhirnya, teknologi adalah alat. Guru tetap menjadi pengarah, sementara perubahan pada cara belajar dan perkembangan kompetensi siswa menjadi ukuran utama keberhasilannya.
Tim Humas Smandu Komodo







