UNTUKMU MAMA

Oleh: Yuventia Gratia, S.Pd

“Ve ni Q harus pulang ke Jawa, kondisi mama reny skrang koma ngedrop parah..btw, ni Q tengah malam td dtlpn pakdenya reny disuruh segera pulang ke Jawa dulu.. jngn blng ke reny dulu skrng tunggu nanti maem pagi aja km siap2 dampngn reny dulu Q takut dia nangis atau pingsan Ve..thanks”. Demikian pesan itu terbaca di layar hpku, pesan dari” SM Febry reny” pukul 5: 50, 19/05/12.

Aku terbangun dari baringku, kaget dan penuh dengan ketakutan. Kupandangi mbak Reny, saudari kesayanganku masih tertidur pulas. Dia tak tau apa-apa mengenai ini. Aku bingung cara apa yang tepat untuk bisa aku katakan padanya.

“Mbak…ayo bangun, siap sholat, sebentar lagi adzannya berkumandang”, perintahku pagi itu.

“Hmmmm iya mbak ntar lagi”. Beberapa menit kemudian suara adzan berkumandang dari Masjid di tengah kota itu. Aku membangunkannya lagi dan “ Iya mbk ntar lagi”.

Lima menit kemudian dia bangun dan wudhu terus sholat. Setelah sholat Subuh dia berbaring lagi sedangkan Aku sibuk menghubungi maskapai penerbangan. Tak ada satupun yang mengangkat telepon, maklum terlalu pagi dan belum saatnya untuk beraktivitas, masih di alam mimpi.

“Mas, kita harus mendapatkan tiket hari ini, seandainya hari ini ada penerbangan, langsung aja kalian berangkat”. Kataku via sms.

”Atau tiket sambung aja, dari Waingapu ke Kupang pake pesawat Merpati terus dari Kupang ke Denpasar pake Batavia, mudah-mudahan bisa konek”, jelasku.

”Iya Ve, akan kita usahakan ya Ve, terima kasih banyak”, jawab Mas Febry.

”Sama-sama Mas”, balasku.

Keresahan dan ketakutan melanda pikiran ini. “Ya Allah apakah saudariku harus kehilangan Bundanya yang tercinta setelah ia kehilangan Ayahanda pada tahun 2006 yang lalu, tolong Tuhan berikan kesempatan yang terindah untuk saudariku, aku takut Tuhan, aku tak tega melihat kesedihannya”, bisikku dalam hati, air mataku pun jatuh. Aku membayangi keceriaan saudariku itu, Ya Allah ku tak mampu melihat keceriaan itu hilang dari padanya.

Hal yang tak terencanakan Mas Febry salah mengirim sms, sms yang seharusnya dikirim untukku ternyata harus salah alamat, pesan baru masuk di hand phone saudariku itu, yah dia kekasih hati dari Mas Febry. Dia kaget dan panik, ada rasa takut yang terlihat dari wajahnya.

“Mbak..ada apa dengan Mama? Kenapa kok kalian sms tentang Mama, ada apa dengan Mama, mbak?” tanyanya dengan tangis padaku.

“Nggak terjadi apa-apa sama Mama, Sayang, tenang aja dulu. Sampean harus pulang, Mama sakit lagi, Mama kangen sama sampean”, jawabku tegar sambil tersenyum menghiburnya. Dia tetap berontak dan menangis. Pedih hatiku melihat semua itu.

”Mbak.. sumpah demi Tuhan, nggak terjadi apa-apa sama Mama. Doakan hari ini ada tiket dan Sampean cepat pulang ke Jawa, Mama kangen sama Sampean, jangan nangis, segera mandi terus kita pergi tanya tiket. Harus dapat tiket hari ini”, saranku untuknya.

”Iya mbak, tapi gimana dengan Mama?”, tanyanya lagi karena tak percaya.

”Ya ampunnnn kalau aku bohong, aku bukan sahabat sampean mbak, mbak nggak anggap aku saudari, tolong percaya…Mama sakit lagi, itu saja. Doakan hari ini ada tiket supaya sampean dan Mas Febry pulang”, nasihatku lagi. Syukurlah, dia percaya dan kembali tenang.

Setelah semuanya sudah mandi, kami memutuskan untuk menanyakan informasi tiket dan penerbangan. Perut yang sudah kosong terasa sudah kenyang pagi itu. Yang penting sekarang adalah mendapatkan tiket, cepat pulang, cepat ketemu Mama. Ya Allah mudahkanlah segalanya. Amin.

“Allah memberikan ujian kepada manusia tidak melebihi batas kemampuan manusia itu sendiri”, demikian kalimat My Forever Love yang aku ingat. Ya Allah aku percaya padaMu, izinkanlah dan berikanlah kesempatan untuk saudariku ini. Senang rasanya ketika tiket penerbangan itu ada untuk keberangkatan hari Minggu, 20 Mei 2012, thanks Lord.

Hari Sabtu pun berlalu. Matahari kembali panas di hari yang baru, yah hari Minggu.

“Sarapan ya Mbak di pecel aja”, ajak saudariku pagi itu setelah mandi.

“ Iya mbk”, jawabku.

Kulihat ada ketegaran dan doa di wajahnya. Ya Allah jangan hilang semua ini dari padanya. “Mama harus kuat yah..mbak Reny akan segera pulang, segera ketemu Mama,” bisikku dalam hati. Getir rasanya mengalami hal seperti ini, yang sama aku rasakan ketika seseorang yang aku cinta menunggu kehadiranku dalam keadaan sakit.

“Oh Tuhan aku tak menginginkan itu terjadi, berikan saudariku kesempatan”, doaku penuh takut.

Menit berlalu. Jam pun terus berlalu sampai pada akhirnya mereka harus meninggalkan kontrakan sederhana itu.

“Hati-hati sayang yah, ingat jangan menangis di depan Mama, harus tersenyum, sabar, tegar, dan terus berdoa. Mukjizat terjadi pada orang yang percaya. Kalau Sampean melakukan semua itu  Mama pasti selalu semangat dan berjuang untuk sembuh. Kabari aku kalau mau naik pesawat, di Kupang, di Denpasar dan sampai rumah”, kataku siang itu.

“Iya, mbak pasti, terima kasih banyak, doa yah mbak untuk Mama”, jawabnya.

“Pasti Sayang, sama-sama”, balasku lagi.

Perpisahan ditutup dengan pelukan dan senyuman. Sampai jumpa saudariku, doaku menyertaimu.

Hari-hariku sendiri tanpa saudariku lagi, sepi, tak ada paduan suara di kamar itu lagi, hmmm malas nyanyi sendiri, tidak apa-apa yang penting berdoa untuk Mama. Mama sehat dan saudariku cepat kembali. Bukan tak percaya dengan kuasa Allah , pikiranku selalu memikirkan hal yang aneh. Aku takut terjadi hal yang tak diinginkan untuk Mama. Sms-an terus berjalan dan selalu dikabari mengenai keadaan Mama. Berbagai penguatan aku kirimkan untuk saudariku.

Hari-hari terus berjalan hingga sore itu pukul 15.56 WITA.

”Mbk, mas doain ya MamaQ dksih kesembuhan,,MamaQ skrng koma”, pesan singkat terbaca dari layar Nokiaku. Sejenak aku tertegun, mataku terpejam, aku berdesah “Ya Allah, terjadilah kehendakMu.” Tak sadar air mataku jatuh. Aku tak perdulikan pada berapa pasang mata yang memandangku. Ya Allah, mbak Reny dan adik-adiknya sangat membutuhkan Mama. Papa sudah tidak ada, ya Allah, apa mereka harus kehilangan Mama tercinta lagi? Terjadilah KuasaMu ya Allah.” Air mataku terus mengalir, takut, gelisah.

“Bagaimana keadaan Mama, Mbak?”, tanyaku via sms.

“Mama ntar lagi di ruang ICU, Mbak. Ini msh di UGD, kami nggak boleh masuk semua, Mbak”, balasnya.

“Owh..begitu, doain Mama Mbak, tetap sabar”.

“Ya Mbak”, balasnya lagi.

Ada mimpi yang terjadi pada hari sebelummya. Dalam mimpi itu kumenanyakan kabar Mama. ”Oalahhh Mbak, Mama loh tambah cantik berhiaskan kembang melati dan berwangikan kembang melati”, jawab saudariku dalam mimpi itu. Spontan aku terbangun dan langsung menghubungi saudariku itu.

            Kembali aku teringat akan mimpi yang membuat aku takut itu. Mama di ICU? Seperti apakah kata” KOMA” itu? Seperti apakah keadaan manusia ketika harus “ KOMA”? pikiran menjadi bingung dan penuh dengan tanda tanya. Beribu-ribu permohonan dan doa kepada Sang Khalik, ya Allah, terjadilah mukjizatMu, berikan jalan yan terbaik untuk Mama, Engkaulah pencipta kami, penentu hidup dan mati kami, kami serahkan Mama dalam tanganMu. Kalau memang Engkau hendak mengambil Mama dari anak-anaknya, ya Allah, kuat dan tegarkan mereka, Aminnnn. Seketika itu juga mata ini lembab dan air itu merembes lagi di pipiku. Mungkin dunia penuh dengan tanda tanya mengapa aku memiliki perasaan seperti itu untuk Mama.Semua tak bisa diuraikan dengan kata-kata bila aku dituntut untuk menjawab, hati dan perasaan inilah yang bisa menjawab semua itu dan mungkin dunia juga akan mengerti ketika membahas tentang hati dan perasaan.

Malam penuh keresahan, dalam hatipun terus berdoa. Pagi yang baru tiba, matahari bersinar indah. Suasana dingin pagi itu cukup cerah tetapi badan ini masih tetap dingin, maklum menuju musim panas hawa pasti dingin.

Hingga “Inalilahi Waiinalilahi Rojiun telah meninggal dunia Ibunda dr reny Wijayanti,pukul 09.00 WIB, mohon doanya semoga diterima di sisi Allah, diampuni segala dosa-dosanya..amin”. Aku tak melihat siapa pengirim sms itu tapi yang pasti itu sms dari Mas Febry, yah benar Mas Febry yang mengirim pesan itu. Rasa tak percaya dan penuh kebingungan, aku tertegun, aku terpaku, kepala ini kugeleng berkali-kali. Air mataku jatuh lagi. Aku mengucapkan “Mama…Mama…selamat jalan Mama”. Inikah jalan yang terbaik ya Allah? Seperti inikah ya Allah? Seperti inikah ujian yang Engkau berikan ya Allah? Semua ada di tanganMu ya Allah, kami hanyalah titipanMu di dunia ini. Air mata itu kubiarkan terjatuh lagi.

“Mbak Reny harus kuat yah”, nasihatku dalam hati.

“Aku percaya mbak Reny bisa melakukan yang terbaik untuk keluarga. Berikan contoh yang terbaik untuk adik-adik”,  nasihatku lagi.

Hari itu penuh dengan kedukaan, banyak perenungan dan kepasrahan. Pemakaman Mama harus dilaksanakan besok harinya karena harus bersanding dengan Papa, sungguh cinta sehidup semati. Papa dan Mama setia dalam CINTA.

Hari pemakaman pun tiba. ”Alhamdullilah sudah selesai Ve, baru aja”, kabar mas Febry dengan sms itu. Mama sudah berada di tempat peristirahatan terakhir. ”Ampuni segala dosa Mama ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Amin”, doaku lagi.

Jam tanganku menunjukkan pukul 19.52 WITA, kukirimkan pesan untuk saudariku malam itu. Aku menginginkan dia ceria, sabar, tegar, dan tabah menerima segalanya.

“Mama sngt mencintaimu sbesar cintamu tuk Mama. Mama jalan dgn membawa cinta sampai ke pintu Surga. Cintanya itu hanya untuk anak yang dikasihi, slamanya. Mama tersenyum bahagia ketika anak yang dikasihi tersenyum. Sedihlah hati Mama bila engkau trz bsedih. Kasih n sayang Mama tak brksudahan, Slamanya. Sabar Syg y, smpean hrz bsa jd sprti Mama dan Papa tuk adik-adik trcinta. Ayo senyummmmmmmm, Q menyayangimu”.

Mama, rindukan mereka selalu dengan Ridhamu, karena semua yang mereka lakukan “HANYA UNTUKMU, MAMA.”

Leave a Comment