SMANDUKOM.COM— Suasana penuh antusiasme dan kehangatan mewarnai SMAN 2 Komodo saat kedatangan tim dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Pertemuan yang dikemas secara santai namun edukatif ini membahas dua isu krusial bagi masa depan generasi muda Nusa Tenggara Timur: krisis iklim dan ekonomi restoratif.
Kehadiran tiga perwakilan CELIOS—Kak Kiki, Kak Galau, dan Kak Jaya—merupakan buah dari inisiatif Pa Frein Raden. Momen ini berawal saat Pa Frein bertemu dengan kawan-kawan CELIOS di arena Festival Bumi Sabo Nggoang. Terinspirasi oleh semangat edukasi lingkungan, Pa Frein langsung mengundang CELIOS untuk berbagi pengetahuan secara langsung bersama siswa-siswi SMAN 2 Komodo di sekolah.
Memahami Krisis Iklim dan Prinsip Ekonomi Restoratif
Dalam sesi pertama, Kak Kiki memaparkan tantangan krisis iklim yang kian nyata dampaknya, terutama bagi wilayah pesisir dan kepulauan seperti Manggarai Barat. Ia mengajak para siswa untuk lebih peka terhadap perubahan lingkungan di sekitar mereka.
“Krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang kita hadapi hari ini. Anak-anak muda, khususnya teman-teman di SMAN 2 Komodo, memiliki peran kunci untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga keseimbangan ekosistem tempat tinggal kita,” ujar Kak Kiki.
Diskusi berlanjut pada konsep ekonomi restoratif yang dibawakan oleh Kak Galau. Untuk mempermudah pemahaman para siswa, Kak Galau menyampaikan analogi sederhana yang sarat makna.
“Jangan habiskan ikan kecil, karena tidak akan pernah ada ikan besar tanpa adanya ikan kecil. Ekonomi yang berkelanjutan adalah ekonomi yang merawat dan memulihkan, bukan merusak sumber daya hingga habis,” tegas Kak Galau.
Game Interaktif: “Menanam adalah Melawan”
Sesi menjadi makin meriah saat Kak Jaya mengambil alih acara melalui permainan interaktif (game). Sambil bermain dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan reflektif, Kak Jaya berhasil memantik semangat para siswa untuk terlibat aktif.
Di sela-sela permainan, Kak Jaya menekankan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kelestarian alam secara aktif.
“Menanam bukan sekadar menaruh bibit di tanah, tetapi menanam adalah bentuk perlawanan kita terhadap kerusakan lingkungan dan krisis iklim yang mengancam masa depan,” tutur Kak Jaya di hadapan para siswa.
Apresiasi dan Tanggapan Positif
Kegiatan berlangsung sangat asik dan seru. Para siswa SMAN 2 Komodo menunjukkan respons yang luar biasa aktif, berani bertanya, dan antusias mengikuti setiap alur diskusi maupun permainan.
Inisiator kegiatan, Pa Frein Raden, mengungkapkan rasa syukurnya atas terwujudnya pertemuan ini.
“Saya sangat bersyukur niat baik saat bertemu kawan-kawan CELIOS di Festival Bumi Sabo Nggoang bisa terealisasi hari ini. Anak-anak kami membutuhkan perspektif baru seperti ini agar mereka sadar bahwa isu iklim dan ekonomi restoratif sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka,” ungkap Pa Frein Raden.
Apresiasi tinggi juga disampaikan oleh Kepala SMAN 2 Komodo, Kornelis Joni, yang menyambut hangat kehadiran tim CELIOS di sekolahnya.
“Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim CELIOS atas kesediaannya berbagi ilmu di SMAN 2 Komodo. Edukasi seperti ini sangat bernilai untuk membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peduli pada kelestarian lingkungan dan masa depan daerahnya,” puji Kepala SMAN 2 Komodo.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa SMAN 2 Komodo tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga terinspirasi untuk menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan dan menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan di daerah mereka.
Tim Humas





