Labuan Bajo — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Manggarai Barat menggelar Konferensi Kabupaten PGRI V Masa Bakti 2020–2025, Sabtu (7/2/2026), di Aula SMKN 1 Labuan Bajo.
Kegiatan ini menjadi forum tertinggi organisasi PGRI di tingkat kabupaten untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan, menyusun agenda strategis, serta memilih kepemimpinan baru.
Konferensi tersebut dihadiri Ketua PGRI Kabupaten Manggarai Barat, Ketua PGRI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat, para Koordinator pengawas dan pengawas SD, SMP/MTs, dan SMA/SMK/SLB, serta pengurus cabang dan perwakilan guru dari seluruh kecamatan.
Ketua PGRI Manggarai Barat: Bukan Seremonial, tapi Ruang Refleksi
Ketua PGRI Kabupaten Manggarai Barat, Albertus Kabung, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa Konferensi V bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum refleksi kolektif dan konsolidasi organisasi. 
“Lima tahun lalu kita memulai perjalanan ini dengan tekad menjadikan PGRI sebagai organisasi profesi yang terpercaya, dinamis, kuat, dan bermartabat. Hari ini kita hadir untuk mengevaluasi apa yang telah kita tanam dan apa yang telah kita tuai bersama,” ujarnya.
Albertus mengungkapkan, masa bakti 2020–2025 diwarnai berbagai tantangan, mulai dari dampak pandemi hingga dinamika kebijakan pendidikan. Namun demikian, PGRI Manggarai Barat mampu mencatat sejumlah kemajuan, terutama dalam konsolidasi organisasi di hampir seluruh cabang kecamatan dan langkah awal digitalisasi nomor keanggotaan PGRI.
“Ini adalah fondasi penting untuk penguatan organisasi ke depan,” tambahnya.
Selain penguatan struktur, PGRI Manggarai Barat juga aktif mendorong pengembangan profesionalisme guru melalui budaya literasi, penerbitan Jurnal PGRI, buku antologi Reweng de Guru, serta pelaksanaan Bimbingan Teknis Cyber Pedagogy.
Albertus juga menekankan bahwa PGRI harus hadir sebagai rumah advokasi bagi guru.
“PGRI tidak boleh diam ketika guru menghadapi persoalan hukum maupun hambatan penyaluran tunjangan. Advokasi terhadap TPG dan pendampingan hukum bagi anggota akan tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan adanya tantangan internal organisasi, seperti tunggakan iuran dan rendahnya kesadaran berorganisasi sebagian anggota, yang perlu dibahas secara terbuka dan konstruktif dalam konferensi.
Kadis PKO: PGRI Harus Berani Perjuangkan Nasib Guru
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat, Drs. Yohanes Hani, M.Pd, dalam sambutanya menegaskan pentingnya peran PGRI dalam memperjuangkan harkat dan martabat guru.
“PGRI harus berani memperjuangkan nasib guru. Pengurus PGRI ke depan harus menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan harkat dan martabat guru di Manggarai Barat,” tegas Yohanes.
Ia juga menekankan bahwa peserta konferensi merupakan wakil dari sekitar Ribuan guru yang berkarya di Manggarai Barat dan tersebar di seluruh kecamatan dan satuan pendidikan. Menurutnya, masih banyak persoalan guru di lapangan, termasuk kekerasan fisik dan psikologis, serta tekanan dari oknum orang tertentu.
“Karena itu, penguatan dan implementasi undang-undang perlindungan guru di sekolah dan masyarakat harus terus diperjuangkan,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa PGRI merupakan mitra strategis pemerintah daerah dalam pembangunan pendidikan.
PGRI NTT: Solidaritas dan Adaptasi Zaman
Dr. Samuel Haning, sebagai Ketua PGRI Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam arahannya menekankan bahwa PGRI harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman, khususnya di era digital dan dinamika kebijakan pendidikan.
“PGRI harus menjadi organisasi yang solid, adaptif, dan tetap menjadi ruang perjuangan yang adil bagi guru,” katanya.
Ketua Panitia Konferensi Kabupaten PGRI V Manggarai Barat, Kornelis Joni, dalam laporan kepanitian menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan konferensi telah disusun secara sistematis dan partisipatif.
“Rundown kegiatan meliputi pembukaan dan sidang pleno, penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus masa bakti 2020–2025, pembahasan rekomendasi organisasi, hingga sidang pemilihan pengurus baru,” jelasnya.
Ia berharap seluruh agenda dapat berjalan tertib, transparan, dan demokratis.
“Guru bermutu, Indonesia maju. Guru hebat, Indonesia kuat. Semoga kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik dan lancar serta melahirkan kepemimpinan yang membawa PGRI Manggarai Barat semakin kuat dan relevan,” ujarnya.
Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas… Yes!”
(Frein R/red)






