Labuan Bajo — Di ruang konferensi yang dipenuhi suara guru dari berbagai penjuru Manggarai Barat, Konferensi Kabupaten (Konferkab) V Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang digelar pada Sabtu, 7 Februari 2026, menjadi lebih dari sekadar agenda lima tahunan. Ia menjelma sebagai ruang jeda untuk menoleh ke belakang, sekaligus menatap ke depan, antara evaluasi dan regenerasi.

Konferkab V diawali dengan penyampaian dan pembahasan laporan pertanggungjawaban pengurus PGRI masa bakti 2020–2025. Laporan tersebut tidak hanya mencatat capaian organisasi, tetapi juga menghadirkan refleksi atas tantangan profesi guru di tengah perubahan zaman. Dari forum inilah arah dan rancangan program kerja PGRI Manggarai Barat lima tahun ke depan mulai dirumuskan.

Puncak konferensi ditandai dengan pemilihan Ketua PGRI Kabupaten Manggarai Barat melalui mekanisme yang demokratis dan partisipatif. Dari hasil pemungutan suara, Kornelis Joni,  terpilih sebagai Ketua PGRI Manggarai Barat periode 2026–2030 setelah meraih 54 suara, mengungguli Albertus Kabung, Ketua PGRI periode sebelumnya, yang memperoleh 24 suara.

Proses pemilihan tersebut merupakan muara dari penjaringan berjenjang yang melibatkan 12 cabang PGRI di tingkat kecamatan. Dari nama-nama yang diusulkan, dua figur menyatakan kesediaan maju dan menerima mandat organisasi, sebelum akhirnya dipilih langsung oleh peserta konferensi.

Selain menetapkan ketua, Konferkab V juga mengumumkan struktur awal Pengurus Harian PGRI Kabupaten Manggarai Barat periode 2026–2030, yakni:
Ketua: Kornelis Joni, S.Fil
Wakil Ketua I: Paulinus Rodi, S.Pd
Wakil Ketua II: Laurensius Idin, S.Pd
Wakil Ketua III: Yuliana T. Haryatin, S.Pd
Sekretaris: Sarifudin, S.Si., M.Pd

Panitia Konferkab V menjelaskan bahwa susunan tersebut merupakan pengurus harian inti, sementara komposisi pengurus lengkap akan difinalisasi dan digodok dalam pekan berjalan, agar organisasi berdiri di atas struktur yang kuat dan representatif.

Dalam forum yang sama, peserta konferensi menyepakati sejumlah agenda prioritas PGRI Manggarai Barat, mulai dari penguatan advokasi dan pendampingan hukum bagi guru, konsolidasi dan penataan keanggotaan, peningkatan profesionalisme pendidik, pengolahan website, hingga penguatan peran PGRI sebagai mitra kritis pemerintah daerah dalam pembangunan pendidikan.

Dengan kepemimpinan baru yang lahir dari proses reflektif dan demokratis ini, PGRI Kabupaten Manggarai Barat diharapkan tidak hanya kokoh sebagai organisasi profesi, tetapi juga tetap setia menjadi rumah perjuangan guru—tempat aspirasi dirawat, martabat dijaga, dan harapan pendidikan ditumbuhkan dari ruang-ruang kelas hingga kebijakan.

(FreinR/red)

Leave a Comment