SMANDUKOM.COM — SMA Negeri 2 Komodo menggelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Tingkat SMA Negeri 2 Komodo Tahun Pelajaran 2026/2027, pada 11–13 Agustus 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Mewujudkan Pembelajaran Bermutu melalui Penguatan Literasi, Numerasi, dan Tata Kelola Sekolah” tersebut menjadi ruang bersama bagi para guru untuk melakukan refleksi, berbagi pengetahuan, serta memperkuat kualitas pembelajaran.

Kegiatan MGMP tidak hanya dimaknai sebagai forum administratif, tetapi menjadi momentum untuk menyatukan langkah dan membangun budaya kerja profesional di lingkungan sekolah. Melalui forum ini, para guru didorong untuk saling berbagi pengalaman, strategi pembelajaran, serta berbagai praktik baik yang dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan kebutuhan peserta didik.
Dalam sambutannya, Kornelis Joni, Kepala SMA Negeri 2 Komodo menegaskan bahwa setiap program yang baik harus diwujudkan melalui cara kerja yang baik pula.
“Niat yang baik harus diikuti dengan cara kerja yang baik.” tukasnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya dengan memiliki niat dan program yang baik. Dibutuhkan konsistensi, tanggung jawab, kolaborasi, serta kesungguhan seluruh warga sekolah dalam menjalankan setiap proses pendidikan.
Sementara itu, Laurensius Idin, Koordinator Pengawas (Korwas) dalam arahannya menekankan pentingnya penguatan kompetensi guru yang mencakup aspek kepribadian, sosial, pedagogik, dan profesional. Guru diharapkan terus membekali diri dengan pengetahuan, sekaligus memiliki kemauan untuk berbagi dengan sesama.
“Kepribadian, sosial, pedagogik harus dibekali dengan banyak hal melalui pengetahuan dan berbagi. Profesionalisme berarti kita menjadi ahli di bidang kita masing-masing,” demikian penekanannya.
Menurutnya, seorang guru perlu memahami secara mendalam peran dan tanggung jawabnya. Guru bukan hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu membangun relasi, berkolaborasi, berbagi pengalaman, serta terus melakukan pengembangan diri.
“Kita juga perlu tahu secara dalam tentang peran kita dan mau untuk berbagi,” lanjutnya.
TKA Menjadi Bahan Refleksi
Salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut adalah kondisi hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dinilai masih cukup memprihatinkan. Kondisi tersebut hendaknya tidak semata-mata dipandang sebagai angka atau hasil evaluasi, tetapi menjadi bahan refleksi bersama bagi sekolah dan para guru.
Hasil TKA dapat menjadi cermin untuk melihat kembali berbagai aspek pembelajaran, mulai dari penguasaan kompetensi dasar peserta didik, strategi pembelajaran, penguatan literasi dan numerasi, hingga efektivitas pendampingan yang diberikan guru.

Karena itu, MGMP diharapkan menjadi ruang untuk mencari solusi secara bersama. Setiap guru dapat membawa pengalaman, tantangan, dan praktik baik dari kelasnya masing-masing untuk kemudian didiskusikan dan dikembangkan menjadi strategi pembelajaran yang lebih efektif.
Dari MGMP Menuju Pembelajaran Bermutu
Dengan mengangkat literasi, numerasi, dan tata kelola sekolah sebagai bagian utama kegiatan, MGMP SMAN 2 Komodo diarahkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, sementara numerasi tidak sekadar kemampuan berhitung. Keduanya merupakan fondasi penting bagi peserta didik dalam memahami informasi, memecahkan masalah, berpikir kritis, serta menghadapi tantangan kehidupan dan perkembangan zaman.
Melalui MGMP ini, para guru diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi mampu membawa hasil musyawarah ke ruang kelas. Dari meja pertemuan menuju ruang pembelajaran, dari gagasan menuju tindakan, dan dari tindakan menuju perubahan.
Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan adalah pekerjaan bersama. Ketika guru terus belajar, mau berbagi, bekerja secara profesional, dan berani melakukan refleksi, maka sekolah memiliki peluang yang lebih besar untuk menghadirkan pembelajaran yang bermutu dan bermakna bagi peserta didik.

MGMP pun menjadi lebih dari sekadar musyawarah: ia adalah ruang untuk menyamakan langkah, memperkuat kompetensi, dan menyalakan kembali semangat guru untuk terus belajar demi masa depan peserta didik.



